Seratus Tahun NU dalam Sebuah Ilustrasi

Seratus tahun Nahdlatul Ulama tidak hanya layak dibaca melalui pidato, roadmap, atau rangkaian acara peringatan. Ia juga dapat direnungkan lewat bahasa lain—bahasa visual. Sebuah ilustrasi kapal layar yang mengarungi laut bergelombang dipilih bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai medium tafsir. Di sana, perjalanan NU sebagai jam’iyyah, nilai-nilai yang menjadi arah, serta tantangan yang dihadapi sepanjang abad pertama diringkas dalam simbol-simbol yang sunyi namun berbicara. Esai berikut mencoba membaca ilustrasi itu: bukan untuk mengunci makna, melainkan membuka ruang refleksi tentang ke mana bahtera ini telah berlayar, dan ke arah mana ia sedang dituju.

Dalam ilustrasi ini, Nahdlatul Ulama tidak dihadirkan sebagai monumen atau bangunan megah, melainkan sebagai sebuah kapal layar raksasa. Pilihan metafora ini bukan kebetulan. Sejarah NU lebih tepat dibaca sebagai perjalanan panjang—pelayaran lintas zaman—bukan sekadar rentetan peristiwa seremonial.

Kapal itu besar, tua, dan kokoh. Ia bukan perahu kecil yang mudah terombang-ambing, melainkan bahtera yang dirancang untuk laut lepas. Di atasnya tampak awak yang padat: para kiai, santri, dan jamaah. Mereka bukan penumpang pasif, tetapi bagian dari kerja kolektif yang menggerakkan layar dan menjaga arah. Pesan visualnya tegas: NU bukan penonton sejarah, melainkan pelaku perjalanan bangsa.

Laut di sekeliling kapal tidak tenang. Gelombang besar dan ombak gelap mengisyaratkan tantangan zaman: perubahan global, benturan ideologi, konflik sosial, hingga disrupsi modernitas. Namun kapal tidak oleng, apalagi karam. Seratus tahun perjalanan NU dibaca sebagai bukti ketahanan—bahwa organisasi ini telah ditempa oleh badai, bukan dihancurkan olehnya.

Di layar kapal, terpasang lambang NU. Ia bukan ornamen, melainkan penentu arah. Layar itu melambangkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah—tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal—yang menjadi “angin” penggerak. Selama nilai-nilai itu menjadi layar, NU dapat terus melaju tanpa kehilangan orientasi, meski arah angin sejarah berubah-ubah.

Di puncak tiang, berkibar dua bendera searah: Merah Putih dan identitas NU. Ini bukan kompromi, melainkan pernyataan filosofis. Bagi NU, agama dan kebangsaan tidak dipertentangkan, tetapi disatukan. Menjaga Indonesia adalah bagian dari pengamalan iman. Komitmen kebangsaan tidak melemahkan keislaman; justru menegaskannya.

Langit di atas kapal terbuka luas. Burung-burung beterbangan—sebagian dekat layar dan buritan, sebagian lain jauh di horizon. Mereka melambangkan harapan, kebebasan berpikir, dan dakwah yang rahmatan lil ‘alamin. Burung-burung yang jauh memberi kedalaman visual: perjalanan ini panjang, melampaui satu generasi. Ia bergerak menuju masa depan—menuju visi besar yang kini dirumuskan sebagai Road Map NU 2052.

Di hadapan kapal, tampak batu karang yang diterjang dan hancur. Dalam simbolisme maritim, karang adalah rintangan keras: ancaman laten yang bisa merusak pelayaran. Dalam konteks NU, karang itu dapat dibaca sebagai ekstremisme, radikalisme, intoleransi, dan ideologi kaku yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Yang hancur adalah karangnya, bukan kapalnya. Ini pesan etis yang penting. NU tidak menghancurkan manusia, tidak menyerang dengan kekerasan. Yang runtuh adalah nilai-nilai keras itu sendiri ketika berhadapan dengan kebijaksanaan sejarah, kesabaran ulama, dan keteguhan prinsip. Benturan-benturan semacam ini justru menjadi momentum pembentukan—titik-titik kritis yang menempa NU agar semakin matang.

Percikan air dan gelombang yang membesar menandakan dampak. Setiap sikap NU selalu membawa konsekuensi sosial. Namun dari dampak itulah jalur baru terbuka, dan pelayaran dilanjutkan.

Angka seratus tahun yang hadir dalam ilustrasi ini bukan penanda puncak, apalagi garis akhir. Ia adalah titik refleksi—penanda keberlanjutan. Seratus tahun pertama adalah pembuktian daya tahan; abad kedua adalah soal relevansi dan arah.

Maka, karikatur ini pada akhirnya menyampaikan satu pesan besar:
Nahdlatul Ulama adalah bahtera Islam Nusantara—teguh pada nilai keagamaan, setia menjaga kebangsaan, dan terus berlayar melewati badai zaman demi kemaslahatan umat dan Indonesia.

—–

Ikuti artikel terbaru selasar.me dengan menggunakan aplikasi feed reader. Cara installnya klik di sini.


Similar Posts