Gus Yahya dan Peran NU dalam Dukungan Terhadap Palestina

Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara lantang. Ia mengalir pelan, hampir menyerupai doa yang dilepas tanpa niat diperdengarkan: “Anda (Retno Marsudi, Menlu RI waktu itu) Ummu Filistin, ibu bagi orang Palestina. Sayyid Yahya adalah Abu Filistin, bapak bagi orang Palestina.” Mahmoud Al-Habbash, Penasihat Presiden Palestina, tidak sedang menciptakan gelar kehormatan. Ia sedang menandai sebuah relasi. Sebuah ikatan kesetiaan yang tidak selalu kasat mata, tetapi bekerja diam-diam, konsisten, dan berjangka panjang.
Di negeri yang terbiasa memaknai keberpihakan melalui teriakan, jalan sunyi hampir selalu dicurigai. Siapa pun yang memilih berbicara dengan nada tenang kerap dianggap ragu, bahkan dicap ambigu. Gus Yahya memilih lorong itu: dialog yang melelahkan, diplomasi yang tak memberi kepuasan instan, serta perjumpaan lintas iman yang rawan disalahpahami. Ia pernah singgah di sebuah tempat yang bagi sebagian orang bahkan tabu untuk disebut namanya. Sejak itu, tuduhan tak pernah benar-benar berhenti. Seolah-olah solidaritas hanya sah jika diumumkan dengan suara paling keras dan gestur paling dramatis.
Padahal, kesetiaan Nahdlatul Ulama terhadap Palestina—di bawah kepemimpinan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf—bukanlah sesuatu yang lahir kemarin sore. Ia tumbuh dari sejarah panjang, dari kesadaran etis, dan dari konsistensi sikap yang tidak bergantung pada momentum viral. Menggagas Forum Internasional Religion of Twenty (R20) pada 2022, misalnya, dengan menggandeng Liga Muslim Dunia (Muslim World League/Rabithah Alam Islami) sebagai co-host, dapat dibaca sebagai salah satu kontribusi global NU yang paling signifikan bagi isu Palestina hari ini. Bukan dengan slogan, melainkan dengan membangun arsitektur moral lintas agama.
Dalam beberapa tahun terakhir, PBNU tercatat berulang kali melakukan pertemuan resmi dengan perwakilan Palestina. Sejak 2023 hingga 2024, sedikitnya lima kali PBNU bertemu dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia. Pada 2024, PBNU juga menerima langsung Mahmoud Al-Habbash. Pertemuan-pertemuan itu tidak selalu riuh, tidak selalu menjadi tajuk utama, dan nyaris tak menawarkan sensasi. Namun di sanalah konsistensi bekerja: Palestina dibicarakan bukan sebagai komoditas politik, melainkan sebagai luka kemanusiaan yang belum sembuh.
Bahkan pada 2025, PBNU memfasilitasi pertemuan lintas organisasi masyarakat Islam di Indonesia untuk mendorong sikap negara yang lebih tegas dan lantang dalam membela hak-hak Palestina. Jalan ini tidak menciptakan euforia. Ia tidak memuaskan dahaga emosi. Tetapi ia menyusun tekanan moral yang berlapis, sabar, dan berkelanjutan—jenis tekanan yang justru paling sulit diabaikan oleh kekuasaan.
Namun ada satu peristiwa yang seolah tak pernah selesai diperdebatkan: kunjungan Gus Yahya ke Israel pada 2018. Bagi sebagian orang, fakta itu cukup untuk menghapus seluruh kerja sunyi yang telah dijalani. Penjelasan, dianggap pembelaan. Hanya sedikit yang sungguh-sungguh mau mendengar tujuan kunjungan itu sendiri. Gus Yahya tidak datang untuk merayakan kekuasaan, apalagi memberi legitimasi pada penjajahan. Ia datang untuk berbicara—bahkan menceramahi,sesuai cita-citanya—sebagian kalangan Israel tentang konsep rahmah, tentang tanggung jawab moral agama, tentang kemanusiaan yang runtuh ketika penjajahan dibenarkan dengan dalil teologis.
Ia membawa bahasa yang tidak populer di tengah konflik: bahasa nurani. Bahasa yang mengingatkan bahwa agama, apa pun namanya, kehilangan maknanya ketika berubah menjadi alat pembenar kekerasan. Risiko dari langkah semacam ini jelas dan mahal: dicurigai dari dua arah sekaligus. Tetapi justru di sanalah harga dari jalan sunyi itu dibayar, dengan kesadaran penuh.
Pendekatan yang sama kemudian dibawa NU ke berbagai forum internasional, termasuk melalui Religion of Twenty (R20). Di ruang itu, Palestina tidak diposisikan sebagai milik satu agama atau satu identitas, melainkan sebagai cermin kegagalan dunia dalam menjaga martabat manusia. Dengan bahasa semacam ini, Palestina perlahan masuk ke ruang-ruang lintas iman yang selama ini tertutup oleh kebisingan politik, dendam sejarah, dan kebencian identitas.
Ketika Palestina menyebut “Abu Filistin”, seakan ada pesan yang hendak disampaikan kepada dunia: kami tahu siapa yang tetap berjalan bersama kami, bahkan ketika caranya tidak selalu dipahami. Bukan sebagai pahlawan. Bukan pula sebagai juru selamat. Melainkan sebagai kawan yang bersedia menanggung salah paham demi membuka kemungkinan jalan lain.
Solidaritas tidak selalu lahir dari amarah dan teriakan. Kadang ia tumbuh dari kesabaran yang panjang, dari kerja sunyi yang enggan mencatatkan namanya sendiri, dari keberanian untuk tetap setia pada kemanusiaan ketika dunia lebih menyukai kebisingan.
Di sanalah makna Abu Filistin menemukan rumahnya—bukan di sorak-sorai, melainkan di keteguhan.
————
Ikuti artikel terbaru selasar.me dengan menggunakan aplikasi feed reader. Cara installnya klik di sini.