Mengapa Islah Bukan Akhir: Pelajaran dari Tradisi NU

Dua pertemuan di Lirboyo menandai berakhirnya satu babak konflik PBNU. Islah diumumkan, tangan-tangan dijabatkan, dan publik diminta percaya bahwa badai telah berlalu. Namun bagi warga Nahdlatul Ulama, islah bukanlah garis finis. Ia lebih tepat dibaca sebagai awal pendinginan—upaya menurunkan suhu setelah api berkobar terlalu lama.
Masalahnya, di luar pagar pesantren, bara belum sepenuhnya padam. Nama besar NU telanjur menjadi bahan olok-olok. Media sosial riuh oleh sindiran dan cemoohan, termasuk dari kelompok yang sejak lama memandang NU dengan kacamata curiga. Konflik elite dijadikan pintu masuk untuk meremehkan jam’iyah.
Di titik inilah warga NU diuji. Bukan militansinya, melainkan kedewasaannya.
NU tidak dibesarkan oleh panggung konferensi pers atau drama pengurus. Ia tumbuh dari kesunyian pesantren, doa-doa selepas Isya, dan khidmah yang tak pernah meminta sorotan. Menyamakan NU dengan konflik elite adalah kekeliruan berpikir yang dipelihara demi sensasi.
Membalas olok-olok dengan amarah hanya akan menurunkan NU ke arena yang tak sepadan. Tradisi NU mengajarkan menjaga jarak dari kegaduhan, tanpa kehilangan keberanian untuk bercermin. Islah bukan penghapusan kritik, melainkan penghentian dendam—kesepakatan untuk tidak terus memperluas luka.
Namun islah hanya bermakna jika dijaga oleh mereka yang bersepakat. Kesepakatan damai tidak cukup diumumkan; ia harus dirawat lewat sikap, ucapan, dan kebijakan yang konsisten. Setiap langkah sepihak dan pernyataan provokatif hanya akan membakar ulang api yang sedang didinginkan.
Sejarah NU penuh ujian. Jam’iyah ini bertahan bukan karena paling keras bersuara, melainkan karena paling sabar merawat akarnya. Dalam fase pendinginan inilah keteladanan diuji.
NU tak pernah hidup dari keributan. Ia bertahan karena kesabaran jamaahnya. Islah adalah awal pendinginan—kini yang diuji bukan kata-kata, melainkan konsistensi menjaga kesepakatan.
————
Ikuti artikel terbaru selasar.me dengan menggunakan aplikasi feed reader. Cara installnya klik di sini.