NU, Kiai, dan Godaan Mandat Syuriah
Kalau ada yang tanya saya, “NU ini kok ribut terus?” Saya akan jawab sekenanya, “Kalau NU tidak ribut, itu justru patut dicurigai. Jangan-jangan sudah bukan NU.”
Sudah pasti, NU tidak pernah dirancang untuk menjadi ajang keributan, namun perlu dipahami juga jika NU besar dari banyak penggagas, banyak pesantren, banyak cara berpikir, dan banyak kiai yang—mohon maaf—sama-sama merasa benar, tapi tetap mau duduk satu tikar. Dari situlah NU hidup.
Termasuk gagasan ini, mungkin nanti jadi rame juga. Belakangan, muncul lagi wacana lama: bagaimana kalau Ketua Umum PBNU dipilih saja oleh Rais ‘Aam atau Syuriah? Katanya demi ketertiban. Demi stabilitas. Demi mencegah politik uang. Kedengarannya mulia. Bahkan terasa sangat pesantren.
Kiai memilih. Santri melaksanakan. Selesai.
Masalahnya, NU itu bukan hanya pesantren. NU itu pesantren plus rakyat. Dan rakyat, kalau tidak diajak ikut merasa memiliki, biasanya tidak akan ribut—tapi juga tidak akan berjuang.
Stabilitas Itu Enak, Tapi Bisa Bikin Ngantuk
Saya tidak menolak stabilitas. Tapi stabilitas yang terlalu sempurna sering kali seperti obat tidur. Nyaman, tapi membuat organisasi kehilangan refleks.
Kalau Ketua Umum dipilih langsung oleh Syuriah, NU sepertinya memang akan rapi. Tidak ada “kampanye”. Tidak ada kubu. Tidak ada spanduk. Tapi juga tidak ada kegelisahan dari bawah. Tidak ada debat. Plus tidak ada rasa, “ini hasil ijtihad kita bersama”.
NU bisa jadi sangat sopan. Tapi jangan-jangan sopannya karena sudah kehilangan greget.
Hak Memilih itu Bukan Soal Demokrasi Semata
Di NU, hak memilih Ketua Umum bukan cuma soal menang-kalah. Itu soal ikut “menanggung akibat.”
Kalau Ketua Umum hasil pilihan sendiri ternyata salah, warga NU biasanya tidak lari. Menggerutu, iya. Mengkritik, iya. Tapi tetap bertahan. Karena ada rasa, “Ini kesepakatan bersama.”
Kalau Ketua Umum dipilih sepenuhnya oleh Syuriah, lalu kebijakannya bermasalah, siapa yang menanggung? Cabang hanya bisa bilang, “Itu urusan pusat.”
NU boleh saja tetap besar. Tapi militansinya pelan-pelan hilang. Bekerja bukan lagi karena cinta, melainkan karena surat.
Kasihan Rais ‘Aam Kalau Terlalu Berkuasa
Ada satu hal yang sering dilupakan orang: ulama itu paling berat bebannya justru ketika terlalu dekat dengan kekuasaan.
Kalau Ketua Umum dipilih oleh Syuriah, maka setiap kegagalan PBNU akan dibaca sebagai kegagalan Rais ‘Aam. Ulama tidak lagi jadi penuntun, tapi pada akhirnya jadi penanggung jawab utama.
Padahal, ulama itu justru kuat karena tidak ikut rebutan. Begitu ulama terlalu menentukan jabatan, wibawanya ikut dipertaruhkan.
Dan kalau ulama sudah dipertaruhkan, yang rugi bukan hanya ulama—NU secara keseluruhan ikut goyah.
Jangan Salah: Tidak Mudah Menentukan Pilihan
Orang sering mengira kalau kiai berkumpul pasti adem. Itu karena kita hanya melihat senyumnya. Padahal memilih satu dari banyak kiai baik itu jauh lebih sulit daripada voting ramai-ramai. Ketegangannya mungkin tidak menyebar, tapi mungkin lama sembuhnya juga. Konflik yang dipendam biasanya tidak ribut, tapi berumur panjang.
NU justru sehat karena banyak hal diperdebatkan di ruang terbuka, lalu selesai di musyawarah.
NU Itu Kuat Karena Tidak Mudah Diatur
Saya selalu bilang, kalau ada kekuatan politik ingin menguasai NU, mereka akan capek sendiri. Karena NU terlalu banyak cabangnya, terlalu berisik, dan terlalu sulit diseragamkan. Saya tidak pernah alergi pada stabilitas. Tapi stabilitas yang terlalu sempurna sering kali membuat orang lengah. Organisasi menjadi rapi, tapi refleksnya tumpul.
Mandat yang terlalu terpusat justru membuat NU mudah ditekan. Cukup mendekati segelintir elite, selesai. Itu bukan penguatan. Itu membuka celah.
Kalau Ketua Umum ditentukan oleh lingkar yang sangat sempit, NU memang jadi mudah diatur dari dalam. Tapi juga lebih mudah ditekan dari luar. Dulu, siapa pun yang ingin “mengurus” NU harus berhadapan dengan banyak wilayah, bahkan mungkin cabang juga. Sekarang, cukup mendekati beberapa orang kunci saja, sangat menghemat energi bagi yang ingin mengakali NU.
Bukan karena kiai bisa dibeli—jangan salah paham. Tetapi politik tidak selalu bekerja dengan uang. Ia bekerja dengan tekanan, dengan janji, dengan pembelahan halus. Dan sistem yang terlalu terpusat selalu menyediakan satu titik rapuh: sekali ditekan, seluruh badan ikut terasa.
NU selama ini sulit dikuasai justru karena terlalu banyak pintu masuk. Terlalu ribut. Terlalu luas. Terlalu hidup. NU selama ini selamat bukan karena rapi, tapi karena berantakan dengan cara yang sehat. Desentralisasi NU bukan kelemahan. Itu mekanisme bertahan hidup.
Maka Jalan Tengah Itu Bukan Kompromi Lemah
NU memilih jalan yang merepotkan: ada restu ulama, ada voting, ada musyawarah, ada ribut sedikit. Ini bukan sistem paling efisien. Tapi ini sistem yang sesuai untuk NU. Ini bukan karena NU tidak punya prinsip, tapi karena NU tahu dirinya sendiri. Terlalu demokratis bisa gaduh. Terlalu sentralistik bisa mati pelan-pelan.
NU hidup di antara dua kutub itu. NU tidak perlu terlalu takut pada konflik. NU justru harus takut kalau sudah tidak ada yang peduli.
Kalau suatu hari NU terlalu tenang, terlalu patuh, terlalu rapi—tolong dicek dulu:
apakah itu tanda warganya sudah lelah ikut merasa memiliki.
NU besar bukan karena satu keputusan, bukan karena satu kiai, dan bukan karena satu sistem. NU besar karena banyak orang ikut cerewet, lalu tetap setia pulang ke rumah yang sama.
Dan rumah itu, selama ini, bernama Nahdlatul Ulama.