Tangan yang Teracung di Tengah Lautan Sarung Lirboyo

Minggu itu, udara di Pondok Pesantren Lirboyo terasa lebih padat dari biasanya. Bukan karena panas Kediri, melainkan karena ratusan kiai, sesepuh, dan perwakilan NU dari seluruh penjuru negeri berkumpul dengan satu beban di pundak: nasib jamiyah. Di tengah hiruk-pikuk suara dan ketegangan diskusi yang membahas konflik internal PBNU, ada satu momen yang membuat ruangan mendadak senyap.

​Di antara lautan peci hitam, Gus Yahya—sosok yang menjadi pusat pembicaraan hari itu—mengangkat tangan. ​Bukan acungan tangan interupsi ala politisi di gedung dewan, melainkan gestur santun seorang santri yang memohon izin “matur” kepada para sesepuh. Moderator sempat terlihat gamang sejenak. Apakah ini akan menjadi pembelaan diri yang berapi-api? Ataukah sebuah serangan balik?

​Namun, saat mikrofon diserahkan, yang keluar bukanlah amarah. Dengan nada tenang namun menghujam, Gus Yahya melontarkan dua taklimat yang membuat dada para musyawirin berdesir.

​”Kulo nyuwun izin,” ujarnya, sebelum menegaskan sikapnya. Ia tidak lari. Ia membuka diri selebar-lebarnya untuk ditabayunkan, diperiksa, bahkan dikuliti kesalahannya jika memang ada, asalkan dengan bukti yang jelas.

​Tapi puncak emosinya ada pada kalimat berikutnya. Dengan suara yang ditekan penuh keyakinan, ia mengulang frasa itu sampai tiga kali, seolah ingin mematri komitmennya ke dinding-dinding aula Lirboyo:
​”Sejak detik pertama saya senantiasa menginginkan islah. Tapi saya siap islah bina’an ‘alal haq, bina’an ‘alal haq, bina’an ‘alal haq! Bukan bina’an ‘alal bathil,” tegasnya.

​Ia ingin damai, ia ingin rekonsiliasi, tapi bukan perdamaian palsu di atas fondasi yang rapuh. Ia bahkan mengaku telah “mengetuk pintu” Rais Aam lewat pesan singkat, menunggu dengan takzim selama 3×24 jam demi sebuah jawaban.
​Seketika, ketegangan itu mencair.

Ruangan yang tadinya penuh tanda tanya berganti dengan gema takbir dan tepuk tangan. Hari itu di Lirboyo, acungan tangan Gus Yahya bukan sekadar meminta waktu bicara, melainkan sebuah sinyal bahwa di tengah badai sekalipun, adab dan keteguhan prinsip ala santri masih menjadi panglima tertinggi.

————
Ikuti artikel terbaru selasar.me dengan menggunakan aplikasi feed reader. Cara installnya klik di sini.

Similar Posts