Karikatur Politik: Refleksi Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan

Karikatur politik kerap berfungsi sebagai cermin. Ia tidak hanya menyoroti sosok tertentu, tetapi mengajak siapa pun yang melihatnya untuk bercermin. Karikatur tentang Peter Berkowitz ini dapat dibaca dalam semangat tersebut: sebagai refleksi tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan nurani bisa berjalan di jalur yang berbeda.
Dalam ilustrasi itu, sosok di podium berdiri di antara dua dunia yang kontras. Di sisi kanan, suasana tampak cerah dan tertata. Buku-buku, pilar hukum, timbangan keadilan, serta istilah ‘mahal’ seperti Democracy, Human Rights, International Law, dan Diplomacy mendominasi ruang. Inilah dunia ideal akademik—tempat nilai-nilai luhur dirumuskan, diajarkan, dan diperdebatkan secara rasional.
Namun di sisi kiri, realitas digambarkan jauh lebih gelap. Warna suram, suasana berat, dan simbol penderitaan memenuhi ruang: tembok pemisah, aparat bersenjata, bangunan runtuh, serta warga sipil—terutama anak-anak—yang menanggung akibat konflik. Kata-kata seperti Suffering, Colonialism, Genocide dan pelanggaran hak asasi manusia menjadi penanda luka yang nyata.
Karikatur ini tidak sekadar mempertentangkan dua lanskap, melainkan mempertanyakan jarak di antara keduanya. Ia mengajak kita merenung: apa arti ilmu yang tinggi jika tidak disertai kepekaan kemanusiaan? Untuk apa pemahaman mendalam tentang hukum dan hak asasi jika dalam praktiknya justru digunakan untuk membenarkan, menormalisasi, atau mengabaikan kerusakan?
Karikatur ini menggambarkan dua dunia Berkowitz di atas. Cek saja khutbah Dia saat hadir sebagai pembicara di forum R20 di Bali 2022 lalu, kemudian kontraskan dengan peran Berkowitz dalam membela aksi-aksi Israel atas Palestina.
Dalam konteks ini, sosok di tengah dapat dibaca sebagai simbol siapa pun—akademisi, intelektual publik, ulama atau pengambil kebijakan—yang berada di persimpangan antara pengetahuan dan tanggung jawab moral. Karikatur ini mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya alat analisis, melainkan amanah. Ia bisa menjadi cahaya yang melindungi kehidupan, atau sebaliknya, menjadi bahasa rapi yang menutupi ketidakadilan atau jadi senjata perusak apapun.
Pada akhirnya, karikatur ini mengajukan satu pertanyaan sunyi kepada kita semua: ke mana ilmu yang kita miliki diarahkan—untuk merawat kemanusiaan, atau tanpa sadar ikut mendukung kerusakan?
————
Ikuti artikel terbaru selasar.me dengan menggunakan aplikasi feed reader. Cara installnya klik di sini.